Mekanisme Debit Kredit

Mekanisme Debit Kredit : Ketahui Juga Pengertian dan Beberapa Contohnya

Dalam dunia akuntansi, debit dan kredit saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Keduanya terkadang bisa membuat Anda bingung untuk memahami posisinya. Maka dari itu, ketahui pengertian, mekanisme debit kredit, dan beberapa contohnya.

Dengan begitu, Anda akan lebih paham dan tidak kesulitan lagi dalam membedakan antara debit dan kredit. Semua informasi yang dibutuhkan tersebut, bisa diketahui melalui pembahasan artikel ini.

Pengertian dan Mekanisme Debit Kredit

Di bawah ini akan dijelaskan secara lengkap, mulai dari pengertian dan perbedaan antara debit dan kredit. Selain itu, juga akan mengulas mengenai mekanisme debit kredit secara rinci.

Mulai dari sistem hukum, asal-usulnya, dan ketentuan yang ada dalam mekanisme tersebut. Jadi, simak baik-baik supaya bisa memahaminya dengan mudah dan cepat.

  • Pengertian

Kata debit berasal dari bahasa latin yaitu debere. Artinya adalah pencatatan akuntansi yang mana aset dan biayanya mengalami peningkatan. Debit biasanya akan ada di sisi sebelah kiri.

Kemudian, penambahan asetnya dapat berupa uang, perlengkapan, peralatan, sampai aset tidak berwujud. Misalnya sewa dan piutang.

Sedangkan pengertian dari kredit ialah pencatatan akuntansi untuk akun hutang dan juga ekuitas yang mengalami peningkatan. Biasanya kredit berada di sisi kanan dan mempunyai nama latin credere.

Ketika aset atau beban berada di posisi kredit, maka terdapat pengurangan di dalam akun tersebut. Kemudian, jika akun hutang, ekuitas, dan akumulasi ada di dalam posisi debit berarti sedang mengalami peningkatan nilai akun.

  • Mekanisme Debit Kredit

Sudah 500 tahun sebuah mekanisme debit kredit diterapkan dalam akuntansi. Sampai sekarang pun masih terus digunakan. Mekanisme ini merupakan konsekuensi dari sebuah penerapan persamaan aljabar.

Bagiannya terdiri dari sisi kiri dan kanan. Bloomfield pernah mengemukakan bahwa akuntansi sebagai bahasa bisnis. Informasi yang akuntansi sampaikan bisa diurai menjadi beberapa bagian lagi.

Kemudian, untuk laporan keuangan sendiri terdiri dari komponen aset, ekuitas, utang, pendapatan, dan biaya. Komponen tersebut bisa digunakan menjadi akun dan sub akun. Berikutnya terurai lagi menjadi mekanisme debit kredit.

Hal itu melalui proses pembukuan, misalnya jurnal, kertas kerja, buku besar, dan lainnya. Komponen tersebut disusun sehingga menghasilkan laporan keuangan.

Untuk mekanisme debit kredit sendiri termasuk sel yang menjadi dasar terciptanya sebuah informasi akuntansi. Sebagian pakar akuntansi menganggap bahwa pemahaman terhadap debit dan kredit termasuk pengetahuan yang remeh.

Jadi, tidak perlu memperoleh perhatian khusus. Kemudian, beberapa literatur akuntansi berpendapat bahwa mekanisme debit kredit merupakan sebuah kesepakatan.

Namun, ada pula yang mengatakan hal ini hanya sekedar media untuk membedakan antara penjumlahan dan pengurangan. Kemudian pendapat yang paling parah ialah menganggap bahwa mekanisme ini hanya pembeda antar sisi kanan dan kiri.

Pemahaman yang salah dan juga tidak logis tentu bisa mempengaruhi penyusunan standar serta informasi akuntansi. Maka dari itu, mekanisme debit kredit lebih logis jika ditinjau dari logika matematika.

Di bawah ini akan dijelaskan mengenai hukum dalam mekanisme debit kredit serta ketentuannya.

  • Sistem Pencatatan Berpasangan

Pencatatan transaksi dalam akuntansi, terutama di bidang fungsi penjumlahan, maka akan selalu melibatkan dua akun yang berubah. Dua akun tersebut berupa bertambah atau berkurang.

Kemudian, pencatatan transaksi juga menuntut total perubahan nilai moneternya yang harus seimbang. Sistem ini adalah pencatatan akuntansi lebih dikenal dengan istilah pencatatan berpasangan (double entry system).

Sistem ini merupakan konsekuensi supaya bisa menjaga keseimbangan persamaan akuntansi. Artinya penggunaan dana harus sama dengan perolehan dana. Dari sistem pencatatan berpasangan, maka muncullah mekanisme debit kredit.

Penemu sistem ini adalah pedagang Venesia yang termasuk pedagang terkenal dan ulung di masanya. Pada abad ke-15 yaitu tahun 1494, akuntansi memakai angka Arab dan berkembang di Italia.

Saat itu, terbit buku akuntansi pertama yang merupakan hasil karya Luca Pacioli dari Venesia. Judul bukunya adalah Summa de Arithmatica, Geometrica Proporpioni et Proportionalita.

Dalam buku tersebut membahas tentang akuntansi yang berjudul Tractacus de Computis et Scriptoria. Buku itulah yang tersebar di benua Eropa Barat. Lalu, dikembangkan kembali oleh ahli akuntansi.

Dengan begitu, muncullah beberapa sistem akuntansi. Akan tetapi, tetap mengacu pada metode yang dipakai oleh Luca Pacioli. Maka dari itu, Luca disebut sebagai penemu double entry.

Namun, banyak yang membantah pendapat tersebut. Peneliti lain menyatakan bahwa akuntansi dan double entry accounting ternyata sudah ada jauh sebelum Luca Pacioli membukukannya.

Hal itu pun juga tertulis dalam buku Luca Pacioli sendiri. Isinya adalah bahwa, yang ditulisnya tentang double entry bookkeeping ialah berdasarkan metode yang dipakai di Venice, Italia.

Meskipun bukan penemu pertama, tetapi Luca Pacioli tetap berjasa dalam menyebarkan landasan terkait tata buku berpasangan. Mengingat jika ia tidak membuat buku mengenai sistem ini, tentu tidak akan bisa dikenal luas.

  • Ketentuan Debit

    Kredit

Analisis fakta terhadap transaksi mengidentifikasi setiap perubahan dana pada elemen persamaan akuntansi. Baik itu perubahan dalam hal penambahan maupun pengurangan.

Setelah itu, hasil analisis yang berupa identifikasi perubahan dana perlu didokumentasikan memakai mekanisme debit kredit. Sedangkan untuk ketentuannya sendiri ialah bisa lihat di bawah ini.

  • Ketentuan debit kredit untuk elemen biaya, aset, dan pengambilan pemilik ialah bertambah. Hal itu dicatat di debit. Kemudian berkurang dan dicatat di kredit.
  • Sementara, ketentuan debit kredit untuk elemen ekuitas, liabilitas, dan penghasilan adalah bertambah. Hal itu dicatat di kredit. Lalu, yang dicatat di debit ialah berkurang.

Dari daftar di atas kemungkinan Anda masih sedikit bingung dalam memahaminya. Maka dari itu, akan dibuat tabel supaya lebih jelas dan mudah dimengerti. Dengan begitu, tidak bingung lagi terkait ketentuan debit kredit pada setiap elemen.

 

Tipe Akun  Debit Kredit
Aset Bertambah Berkurang
Liabilitas Berkurang Bertambah
Ekuitas atau Modal Berkurang Bertambah
Pendapatan Berkurang Bertambah
Beban atau Biaya Bertambah Berkurang

Ketentuan debit kredit di atas berlandaskan pada persamaan aljabar. Seperti yang sudah diketahui, bahwa akuntansi berfungsi untuk menyajikan informasi keuangan. Akan tetapi, satuan uang tidak mengenal angka negatif.

Maka dari itu, penulisan nilai moneter yang menggunakan simbol negatif tidak diperkenankan. Penggunaan simbol negatif tersebut bertujuan untuk menunjukkan terjadinya pengurangan dana.

Ketika tidak diperkenankan, maka solusinya adalah pengembang awal akuntansi dengan cerdas dan bijaksana menerapkan mekanisme kiri kanan. Penerapan tersebut dikenal sebagai mekanisme debit kredit.

Dalam ilmu matematika, angka negatif bisa berubah menjadi positif ketika dipindahkan dari satu sisi ke lainnya. Misalnya -5, maka ketika dipindahkan ke sisi lainnya akan menjadi +5.

Dengan menerapkan mekanisme ini, maka akuntansi akan selalu memproses transaksi memakai nilai moneter yang positif. Jadi, akan sesuai dengan realita.

Contoh Penempatan Akun pada Posisi Debit dan Kredit

Supaya bisa lebih memahami penempatan debit dan kredit, maka di bawah ini akan diberikan beberapa contohnya. Dengan begitu, tidak kebingungan lagi dalam menentukan penempatan transaksi di posisi debit dan kredit.

Baca Juga : Apa Itu Saldo Normal Akun 

  • Ketika menjual barang dagangan kepada pelanggan secara tunai, maka akun debitnya adalah kas. Sedangkan akun kreditnya adalah pendapatan.
  • Kemudian, ketika menjual barang dagang kepada pelanggan secara kredit, maka akun debitnya adalah piutang dagang. Sedangkan akun kreditnya ialah pendapatan.
  • Membeli perlengkapan kepada supplier secara tunai, maka akun debitnya adalah perlengkapan. Sedangkan akun kreditnya ialah kas.
  • Sedangkan jika membeli perlengkapan kepada supplier secara kredit, maka akun debitnya adalah perlengkapan. Sementara hutang dagang adalah akun kreditnya.
  • Menerima kas terhadap pelunasan piutang usaha oleh pelanggan, maka akun debitnya adalah kas. Kemudian akun kreditnya adalah piutang dagang.
  • Membeli fixed asset kepada supplier secara kredit, maka akun debitnya adalah fixed asset. Lalu hutang dagang adalah akun kreditnya.
  • pembelian inventory kepada supplier secara tunai, maka inventory adalah akun debitnya. Lalu kas merupakan akun kredit.
  • Sedangkan jika membeli inventory kepada supplier secara kredit, maka inventory adalah akun debitnya. Kemudian utang dagang adalah kreditnya.
  • Contoh yang terakhir adalah ketika membayar gaji karyawan, maka akun debitnya berupa salary expenses. Lalu kas merupakan akun kreditnya.

Kemudian untuk contoh penggunaannya adalah seperti Anda memiliki saldo sebesar Rp5.000.000,-. Kemudian, membeli perlengkapan kantor dengan nilai Rp1.000.000,- menggunakan saldo tersebut.

Itu berarti rekening bank ialah akun sumber. Kemudian, 1.000.000 akan dicatat sebagai kredit atau berada di sisi kanan akun T.

Sedangkan, rekening biaya perlengkapan kantor merupakan rekening tujuan yang di debit di sisi kiri. Supaya lebih jelas, bisa lihat tabel berikut terkait gambaran penulisannya.

Akun Kas dan Bank
Debit Kredit Kredit
Rp5.000.000,- Rp1.000.000,-
Perlengkapan Kantor
Debit Kredit Kredit
Rp1.000.000,-

Perbedaan Debit dan Kredit dalam Akuntansi

Setiap melakukan transaksi akuntansi, maka minimal harus ada dua akun yang berkaitan. Akun tersebut berupa entri debit yang dicatat pada satu akun. Kemudian, entri kredit yang dicatat pada akun lainnya.

Sebenarnya, tidak ada batas terhadap jumlah akun yang terlibat dalam transaksi. Akan tetapi, minimal tidak boleh kurang dari 2. Selain itu, total dari debit dan juga kredit pada setiap transaksi harus sama.

Oleh karena itu, transaksi akuntansi dikatakan dengan keseimbangan. Jika sebuah transaksi tidak seimbang, maka tidak mungkin bisa membuat laporan keuangan.

Dengan begitu, penggunaan debit kredit dalam format pencatatan transaksi termasuk hal yang paling penting. Supaya bisa membedakan antar keduanya, maka bisa melihat perbedaannya pada penjelasan berikut.

Debit mengacu di sisi kiri akun buku besar. Sementara kredit berkaitan dengan sisi kanan buku besar. Dalam rekening pribadi pihak penerima akan berada di catatan debit, sedangkan pihak pemberi ada di kredit
Pada neraca perusahaan, apa saja yang masuk, maka akan ada di debit. Sedangkan, apa saja yang keluar akan ada di kredit.

Kemudian, untuk laporan laba rugi, maka semua pengeluaran maupun kerugiannya akan ada di debit. Lalu yang berada di kredit adalah pendapatan dan keuntungan.

Peningkatan debit dikarenakan oleh kenaikan cash, pabrik, inventaris, mesin, tanah dan bangunan. Selain itu, juga ada pada kenaikan pengeluaran, misalnya gaji, pajak, asuransi, dividen, dan lainnya.

Sedangkan untuk peningkatan kredit, penyebabnya adalah kenaikan dana, pemegang saham, pendapatan, sewa, biaya keanggotaan, hutang, laba ditahan, dan lainnya.

Itulah penjelasan terkait mekanisme debit kredit dan beberapa contohnya. Setelah membaca pembahasan di atas, tentu Anda lebih paham mengenai penempatan debit dan kredit. Dengan begitu, penataan keuangan bisa dilakukan dengan lebih baik.